My Love is You
Pagi itu disekolah lebih tepatnya hari senin, gue akhirnya tiba disekolah dan tidak terlambat. ketika gue asik jalan, tiba tiba...
Dubruuuakkk.. (aku ga sengaja menabrak seseorang)
"Hey kalau jalan itu pakai mata!! Lihat lihat dong" teriak lelaki itu.
"Sorry, gue ga sengaja" kataku.
"Sorry kepala lo sorry, lo kira ga sakit" teriaknya lagi sambil pergi.
“Gue kan udah minta maaf, kok nyolot" teriakku dengan kesal. huft pagi ini benar benar menyebalkan untukku, pagi ini aku harus berhadapan dengan laki laki aneh dikelasku. Aldo, iya namanya Aldo. siapa yang tak kenal dia dengan sifatnya yang dingin dan angkuh. memang sih wajahnya tampan, namun sifatnya yang dingin membuat banyak orang menjauhi sosoknya.
“Kania.." teriak sahabat ku Bella dan Nita.
"Hey, Bel Nit" sapaku.
"Lo ngapain berdiri disini? Tanya Nita.
“Ng..ngak kok, tadi gue ga sengaja aja nabrak sih cowo aneh itu" kataku jengkel.
"Maksud lo Aldo?" Tanya Bella.
“Iya ialah siapa lagi, emang ada cowo aneh selain dia di sekolah ini?" Tanyaku.
*Bella dan Nita cuma menggeleng gelengkan kepala.
“Yaudah kelas yukk" ajakku..
“Ayookk” seru mereka.
setiba dikelas, aku melihat Aldo sibuk dengan buku dan headset ditelinganya. Dia seakan tak peduli dengan siapa pun. setelah proses belajar mengajar telah terlewati, akhirnya jam menunjukkan tepat pukul 14.30 waktunya pulang sekolah.
"Bel, Nit hari ini lo berdua pada kemana? tanyaku.
"Gue hari ini mau pergi sama nyokab gue" jawab Bella.
“Gue ada acara dirumah" jawab Nita.
“Kenapa?" Tanya Bella dan Nita bersamaan.
“Ng..ga apa-apa sih" jawabku.
dan akhirnya kami bergegas untuk pulang. Hari ini ntah kenapa aku malas melangkahkan kakiku untuk pulang ke rumah, mengingat akhir akhir nyokap dan bokap sering bertengkar, membuat rumah seperti neraka untukku. Tapi aku ga memiliki pilihan lain, selain pulang. karena aku ga tau harus kemana kaki ini melangkah. setiba dirumah, disaat aku mau membuka pintu dan tiba-tiba ..
“Aku ga tahan lagi dengan sikapmu, lebih baik kita cerai" teriak mamaku sambil menangis saat itu.
“Oke kita cerai" kata papa.
Apa? Cerai? mendengar kata itu, seperti petir yang menyambar yang kurasakan. tiba tiba tanpa aku sadari, air mata jatuh membasahi pipi. Aku berlari meninggalkan rumah, berharap mereka tak mencariku dan tak satu orang pun menemukan ku. Tak ada yang bisa aku lakukan selain ingin menyendiri. Aku berlari menuju sebuah taman, duduk sejenak menenangkan kesedihan ku. Berharap aku salah dengar atau ini semua hanya mimpi.
Huft" aku menarik nafasku pelan pelan. Aku mencoba menenangkan diriku. Waktu berlalu begitu cepat, tanpa ku sadari ternyata hari sudah malam.
"Aku harus pergi dari sini" batinku. Aku ga tau harus kemana, apa aku pulang atau...
"Tidak..tidak aku tak mungkin pulang ke rumah itu" pikirku. aku terus berjalan dan berjalan dengan deraian air mata membasahi pipi. Kala itu hujan deras membasahi bumi seakan mengerti tangisanku. Aku ga tau harus kemana, berjalan tanpa tujuan yang pasti. sampai pada akhirnya tiba-tiba ..
Ngiiiinngggggg" suara rem mobil terdengar, dan sebuah mobil yang nyaris menabrak ku. Tiba tiba seorang laki laki keluar dari mobil itu sambil marah marah.
"eh, lo mau mati yaa? Kata laki laki itu.
Aku yang mulai lemah, mataku mulai sayu dan akhirnya terjatuh pingsan.
"Kania, itukan Kania..wey, bangun" teriak laki laki itu yang tak lain adalah Aldo.
Aldo menggangkatku dan membawaku ke dalam mobil. Dia membawa ku ke suatu tempat yaitu rumahnya. setiba dirumahnya, Aldo dengan buru mengoleskan minyak ke hidungku. Perlahan aku membuka mataku.
"Dimana gue?" Tanyaku berusaha bangunkan diri.
"Di rumah gue" kata Aldo dengan cuek.
"Kok gue disini? Ohh atau jangan jangan lo mau culik gue ya?" tanyaku sambil mencoba untuk duduk.
"Ehh, cewe sok cantik sejagad raya ngapain juga gue culik lo. rugi gue nyulik cewe kaya lo. Lo tuh tadi pingsan" kata Aldo.
Aku hanya terdiam.
"Gue mau siapin susu coklat biar badan lo hangat, dan ntar gue antar lo pulang" kata Aldo sambil berdiri dan ingin berjalan ke dapur.
"Al, plis..biarin gue bermalam disini..malam ini aja gue janji besok bakalan pulang. Please" kataku bermohon padanya dan tanpa ku sadari aku memegang tangan Aldo.
"Yaudah terserah lo deh" kata Aldo sambil melepaskan tangan ku dan pergi ke dapur. tak lama kemudian Aldo kembali lagi sambil membawa susu coklat panas.
"Nih minum, biar badan lo hangat. Setelah ini lo mandi, ntar gue cariin baju kaka gue siapa tau ada yang muat" kata Aldo.
"Thanks al" kata ku padanya.
Aku merasa malunya. padahal tadi pagi aku kesal dan menjelek jelekan dia, tapi dia sebenarnya laki laki baik.
Keesokan harinya, ketika aku bangun dari tidur ternyata Aldo sudah nyiapin sarapan. Aku bingung kenapa Aldo sendiri tanpa ada orang tuanya. Namun aku malu untuk bertanya dan memilih diam.
"Habis sarapan gue anterin lo pulang ya" kata Aldo.
"Ga usah, gue pulang sendiri aja" kataku.
"Ga, gue harus anterin lo pulang" kata Aldo sambil ngotot.
"Yaudah terserah" kataku pasrah.
Di perjalanan, aku bingung.. apa aku harus pulang atau tidak, aku belum siap untuk pulang. aku belum siap menerima kenyataan pahit ini. bagaimana jika benar? bagaimana dengan nasibku?” pikirku.
“Stop Al..stop" kataku.
“Disini? emang rumah lo dimana? tanya Aldo.
"Didepan, itu rumah gue" kataku sambil asal nunjuk rumah orang. Aku berniat ingin pergi lagi tanpa Aldo tau.
“Yaudah" kata Aldo sambil menghentikan mobilnya.
"Thanks ya" kataku sambil membuka pintu mobil. Aku berdiri menunggu Aldo pergi. Setelah Aldo pergi, aku belok ke kanan. Dan ternyata Aldo curiga dan putar balik mobilnya. tiba2 dia keluar dan menghampiriku.
"Benar dugaan gue, lo ga langsung pulang" kata Aldo. aku hanya terdiam.
"Ayo pulang" kata Aldo sambil menarik tanganku.
"Lepasin Al.. iya gue emang ga mau pulang. Untuk apa gue pulang kalau rumah itu seperti neraka untuk gue. Untuk apa? teriakku. tanpa sadar air mata membasahi pipi. Lagi dan lagi aku menangis. Sebenarnya aku tak ingin menangis di depan Aldo namun aku tak mampu menahan air mata itu.. Aldo tiba tiba memeluk ku dengan hangat. Untuk kali pertama aku mendapat pelukan hangat dari seorang Aldo. Dia mencoba menenangi aku. Pelukan itu, sungguh membuatku tenang. "Jangan menangis" kata Aldo sambil mengusap air mata di pipiku dan mengelus rambutku sambil tersenyum. untuk pertama kali ini aku melihat senyuman nya yang sangat tulus. Dia menatap ku begitu dalam lalu menarik tangan ku dan mengajak pergi.
"Ayo ikut gue" ajak Aldo.
“Mau kemana?" tanyaku.
“Nanti juga lo bakalan tau" kata Aldo sambil tersenyum lagi. Aldo mengajak ku ke suatu tempat dimana aku tidak tau kemana dia ingin membawaku. sesampai di tujuan, ternyata Aldo membawaku ke tempat yang indah. menikmati panorama alam di tepi danau. tak ada siapa siapa, hanya aku dan dia.
“Kalau lo mau menangis, menangis aja.. dan teriaklah.. lakukan sepuasnya sampe lo legah" kata Aldo.
“Haaaaaaaaaaaa........" aku berteriak sekuat aku mau, dan menangis. Aldo hanya menatapku dan tersenyum tulus padaku.
“Ternyata seorang Kania bisa menangis juga ya" kata Aldo sambil senyum kecil.
"Maksud lo apa, iya bisalah gue kan manusia" kataku.
“Yaudah.. kalau lo mau cerita, cerita lah gue siap mendengarkan. Mungkin gue ga bisa bantu masalah lo, tapi setidaknya gue bisa buat hati lo tenang" kata Aldo.
“Nyokap dan bokap gue mau cerai dan gue ga terima akan hal itu. Kenapa harus gue" kataku sambil menangis lagi. Seketika Aldo memeluk ku dengar erat. Lalu ia mengusap air mataku.
“Hey, dengarin gue" Kata Aldo sambil mengangkat daguku yang saat itu tertunduk malu.
"Didunia ini ga ada yang ga punya masalah, lo dan gue punya masalah. Tapi lari dari masalah seperti kabur bukan cara yang baik. Masalah itu harus dihadapi, masalah nyokap bokap lo cerai mungkin itu adalah jalan terbaik" kata Aldo.
“Terbaik? Terbaik apa? Terbaik untuk mereka bukan untuk gue. Ga ada namanya cerai yang baik, cerai tetap cerai korban adalah anak. mereka egois" kataku.
"dengar.. lo masih punya orang tua. Sekalipun mereka cerai mereka tetap orang tua lo. Gue, gue dari kecil ga tau bagaimana dan seperti apa nyokap gue. Nyokap gue meninggal sejak lahirin gue, bokap gue sibuk dengan kerjaan nya. Dan lo beruntung, lo masih punya orang tua lengkap. hanya saja mereka tak bisa bersama lagi" kata Aldo. aku terdiam mendengar ceritanya. Aku ga nyangka dia punya hidup yang pilu dibalik sifat dingin nya.
“Come on, Kania. lo harus sabar. Lo harus bisa belajar menerima kenyataan ini. Pahit emang, tapi begitulah hidup. Ga ada manusia tanpa masalah". Kata Aldo. Mendengar perkataan Aldo, akhirnya aku memutuskan pulang ke rumah.
Setiba dirumah, aku melihat tak ada seorang dirumah.
"Ma,,pa" teriakku. dan tidak ada sahutan. tapi tiba tiba ..
“ Darimana lo?" Terdengar suara Reno, kaka ku.
Aku hanya terdiam dan menunduk-kan kepala.
"Mama papa dari tadi cariin lo. Mereka semua khawatir lo ga pulang. darimana aja lo semalaman? tanya kak Reno.
dan aku masih terdiam.
“Jawab pertanyaan gue, lo ga bisu kan?!” bentak Kak Reno.
"Kenapa baru sekarang mereka peduli, selama ini mereka kemana? Apa kaka fikir gue ga tau kalau mereka akan cerai? tanyaku sambil lari menuju kamar dan mengunci pintu kamar.
Menangis, hanya itu yang bisa aku lakukan.
"Kania, buka pintunya. Jadi karena itu lo ga pulang semaleman? Kania, gue belum selesai bicara" teriak kak Reno sambil mengetuk pintu kamarku. Aku tetap tidak membukanya, yang bisa ku lakukan hanya menangis.
“Mereka jahat”.
Hari demi hari berganti, bulan demi bulan berlalu. Namun perceraian itu tetap terjadi. papa pergi meninggalkan kami semua dan memilih wanita lain. sedangkan mama, terlalu sibuk dengan pekerjaan nya. dan Reno kakaku satu satunya yang dulu selalu ada untukku kini berubah. dia terlalu asyik dengan dunianya dan teman2 nya. dan aku? Ya, aku hanya seorang diri. hari hari aku lewati dengan sendiri, dengan rutinitas yang sebenarnya membosankan. kau tau, satu per satu pergi meninggalkan aku. Aku yang dulu dipuja kini dihujat. Mereka bilang aku seorang anak
“Broken Home” yang tidak punya kebahagiaan dan masa depan. Hidup aku yang dulu sempurna, kini penuh dengan kegelapan. semua menjauhiku seakan menertawakan hidupku. bahkan sahabat ku sendiri mulai menjauhi ku. Namun hanya satu yang bertahan disampingku, yaitu “Aldo” seorang laki laki yang awalnya nyebelin kini dia menjadi pahlawan untukku. Sahabatku? Ya mereka pergi meninggalkanku. Sejak kedekatan ku dengan Aldo membuat aku harus kehilangan 2 orang sahabatku. Bella, ternyata selama ini memendam rasa dengan Aldo. Aku yang lambat laun mulai mendam rasa dengan Aldo, tentu saja tak ingin melepaskan nya begitu saja termasuk untuk Bella. Sedangkan Nita, dia lebih memihak Bella. dia berfikir aku egois. mungkin kau juga akan berfikir demikian, tapi jika kau jadi aku mungkin kau akan melalakukan hal yang sama seperti aku, mempertahankan seseorang yang sangat berarti. Jujur saja, cuma Aldo yang mengerti aku. cuma dia yang ada untukku disaat semua masalah datang. Cuma dia yang buat aku mampu tertawa. Cuma dia yang selalu memberikan keajaiban konyol yang tak pernah aku fikirkan.
Di hari itu ulang tahun ku yang ke 17 tahun, Aldo menyatakan cinta untukku. Ketika tak ada satupun yang ingat hari ulang tahunku, tapi Aldo yang datang memberi kejutan.
“Al, lo mau bawa gue kemana? Lo mau nyulik gue ya? Kataku yang saat itu mataku ditutup dengan kedua tangan nya.
“wuidih, ogah nyulik lo. tapi kalau nyulik hati lo mungkin, iya. Hehe" kata aldo sambil tertawa.
“Apaan sih Al" kataku sambil tersenyum. Ya, hanya tersenyum yang bisa kulakukan.
"Tunggu ya, gue hitung satu sampe tiga. Kalau gue suruh buka baru buka.oke" kata Aldo.
“Oke" jawab ku.
“Satu, dua, ti..gaa buka" kata Aldo. perlahan aku membuka mataku dan ternyata..
"Suprise" kata Aldo.
Hah? Ini??? Lo yang buat? Kataku penuh keheranan.
“Iya, gimana?" Tanya Aldo.
“Indah banget" kataku.
Dan kalian mau tau apa yang disiapkan Aldo? Aldo menyiapkan candle light dinner disebuah taman dengan lilin dibentuk I LOVE U. Sweet bangetkan? Aku ga nyangka, ternyata laki laki yang super dingin itu bisa romantis bagaikan film FTV yang ada di televisi.
“so sweetnya" kataku.
“Kania" kata Aldo sambil menggenggam erat jemari tangan ku.
"I LOVE U" bisiknya sambil mencium tanganku.
" I love you too All" kataku sambil tersenyum. aku ga nyangka Aldo begitu romantis.. dengan alunan musik indah yang mengiringi kami di taman itu, Aldo mengajakku berdansa. Dunia ku begitu indah dan sempurna. senyum nyaris hilang kini kembali. Ya benar, dia mampu membuatku kembali tersenyum. My love is you.
End.
Komentar