Nafas Lapas Anak
Pada tanggal 19 Oktober 2019 saya dan teman teman pemuda di salah satu GEREJA MASEHI ADVENT HARI KETUJUH di MEDAN pergi melayani ke Lapas anak yang ada di Tanjung Gusta.
Ditengah kesibukan dan kelelahan kala itu saya menyempatkan diri untuk mengikutinya.
Ini pertama kali saya dan teman teman melakukan pelayanan di tahanan anak. Tempatnya begitu jauh dari perkotaan sehingga kita menggunakan transportasi ke sana. pertama kita masuk saya cukup takut. Penjagaan yang begitu ketat tidak bisa membuat keluar masuk ke ruangan itu. Di pintu masuk sudah ditunggu oleh penjaga tahanan untuk membukakan pintu. Kita juga tidak diperbolehkan masuk dengan membawa handphone kecuali untuk dokumentasi.
Ketika kami tiba disana, anak anak tahanan sebesar 47 anak beragama kristen tersebut sudah menanti kami di depan ruang kebaktian mereka. Mereka sedang asik cerita dan kemudian pergi masuk ke dalam ruangan untuk bersiap memulai kebaktian. disetiap kursi mereka sudah tersedia masing masing Alkitab. dan mereka duduk dengan baik. Mereka begitu hikmat mengikuti kebaktian dari awal hingga akhir. Proses acara yang kami buat adalah bernyanyi, kesaksian dari salah satu anak lapas, mendengar Firman Tuhan/Motivasi singkat, Quis, Energizer, dll. Mereka sangat senang sekali mengikutinya, ada keceriaan yang diciptakan oleh mereka.
Dari segala permasalahan hidup mereka, mereka lebih banyak belajar dan mendekatkan diri pada Tuhan. Masing masing mereka memiliki masalah dan hukuman yang berbeda beda, namun mereka belajar menerima atas kesalahan mereka dimasa lalu.
Sebut saja misalnya namanya sih A salah satu anak dari tahanan yang kini menjadi pelayan Tuhan dalam hal musik melakukan kesaksian. Dia terjerat hukuman Asusila selama 3 tahun 6 bulan. Diusianya yang masih sangat muda atau bisa kita sebut remaja, dia harus menghabiskan hidupnya di jeriji sel tahanan. Awalnya dia merasa putus asa, dan dia ingin mencoba menghakiri hidupnya di kamar mandi. Namun saat dia ingin mencoba nya, salah satu teman seruangan nya memergoki dia dan melarang nya melakukan hal itu. Dia kemudian tersadar dan meminta maaf pada Tuhan. ada banyak cara Tuhan yang terkadang kita tidak mengetahui apa tujuan nya. dengan talenta yang dia miliki Tuhan memakainya menjadi pelayan Tuhan dalam bermain musik. anak itu sekarang lebih banyak belajar berserah diri pada Tuhan. dia menjadi anak yang taat dan semangat dalam pelayanan. ketika dia bisa menerima hukuman dengan ikhlas, tanpa terasa dia sudah melewati 2 tahun hukuman nya.
Pemimpin acara, pendeta muda dan pemain musik.
Pemenang Quis Alkitab bersama pembicara, bapak. Loran Napitupulu.
Kesaksian mr. A (pemain musik).
dan bukan hanya sih A, ada juga teman sih A yang kita sebut namanya B yang kini dia mau menggunakan suara nya untuk memuji Tuhan. B harus dihukum selama 9 tahun karena kasus pembunuhan. Sama seperti A awalnya sulit menerima hukuman namun akhirnya dia tersadar dan mau melayani Tuhan melalui suaranya.
Tuhan selalu punya jalan untuk membuat kita lebih dekat lagi pada Nya. tidak perduli bagaimana masa lalu yang pernah terjadi, jika kita mau berubah Ia akan memakainya sebagai Pelayan Nya. kita tidak perlu menghakimi mereka karena background dimasa lalunya, karena mereka pasti punya alasan dan faktor mengapa mereka melakukan suatu kesalahan yang akhirnya membuat mereka harus mendekam di sel tahanan. Pada dasarnya mereka masih anak anak sama seperti anak lain nya; bermain, tertawa dan mengejek teman nya satu sama lain. Hanya saja, seperti kita ketahui anak anak remaja seperti mereka mudah terpengaruh tanpa berfikir terlalu panjang. Kita ga perlu seratus persen membenarkan mereka salah, karena peran orang tua juga sangat bergantung pada hidup mereka. Mungkin mereka melakukan kesalahan karena mereka punya kisah masa lalu yang pahit atau mereka salah dalam memilih pergaulan. Kita tidak tau itu. Tapi apapun itu, yang terpenting mereka mau berubah dan belajar menjadi lebih baik.
Menjadi pertanyaan nya untuk kita, bisakah kita seperti mereka yang pada akhirnya mau berubah dan lebih dekat kepada Tuhan ketika masalah menerpa hidup kita? atau malah kita lari dan menyalahkan Tuhan? mari kita merenungkannya.
Komentar