Meraih Kebahagiaan Ibu
Halo, perkenalkan namaku Kania. aku lahir dan dibesarkan di Jakarta. dan saat ini aku sudah semester 5 jurusan Ekonomi di salah satu universitas dikotaku. oh iya hari ini hari selasa, dan hari ini hujan datang membasahi bumi. tapi aku hanya bisa terpaku memandang awan yang semakin gelap. aku tau banyak orang mencintai hujan. tapi tidak dengan aku. aku benci hujan. aku benci dengar suara rerintihan nya. terakhir aku mencintai hujan ketika aku kecil tapi tidak dengan sekarang. Aku adalah seorang anak yang berasal dari keluarga berantakan. mama papaku berpisah ketika aku berusia 12 tahun. Oh iya, mama dan papa ku ribut dan memutuskan berpisah ketika hujan turun, seakan sedih dengan keputusan mereka. itu sebabnya aku benci pada hujan.
"huft, hujan lagi. berhenti kenapa sih?!!" kataku sambil duduk dibawah jendela kamarku. bolak balik ku melirik jam ditangan memastikan bahwa hari ini aku tidak terlambat kuliah. Aku menunggu hujan itu berhenti. sampai pada akhirnya hujan itu berhenti. Ketika aku ingin bergegas mengambil tasku dan akan berangkat ke kampus, tiba tiba..
"kepraaakk" suara gelas terjatuh.
"sudah aku bilang, kamu jangan terlalu manjain anak itu. kita harus hemat". suara seorang pria yang berteriak keras dari suara kamar ibuku. dia adalah ayah tiriku.
"hiks..hiks.. tapi ini biayaya kuliah Kania, dia harus beli buku kuliahnya". kata seorang wanita dengan suara yang terisak isak, yang tak lain adalah suara ibuku.
"saya ga mau tau, pokoknya saya ga ijini kamu kasih uang padanya!" kata pria itu lagi dengan nada yang mulai tinggi. sebenarnya ini bukan hal pertama kalinya aku melihat ibuku bertengkar dengan ayah tiriku. dan lagi lagi mereka bertengkar karena "aku". Ingin sekali rasanya aku pergi dari rumah, tapi aku tidak tega membiarkan ibu ku berjuang sendiri dengan ayah tiriku yang kejam. namanya Hendra, dia adalah seorang laki laki yang kejam dan penuh emosi. badan nya besar dan kekar, sehingga dia mudah melukai aku dan ibuku. Aku ga tau apa yang sudah ia lakukan pada ibuku, sehingga ibuku mau dengan pria sepertinya yang tidak punya pekerjaan dan suka mabuk mabukan. setiap malam, ayah tiriku pulang malam malam dalam keadaan mabuk. kami selalu jadi sasaran empuk dalam setiap amarahnya. ibuku yang berjuang mati matian memenuhi kehidupan kami, sementara dia sibuk mengatur keuangan ibuku. aku sudah sering meminta ibuku menceraikan nya tapi ibu tetap mempertahankan nya. sebenarnya karena satu hal, ibu ku tidak ingin aku malu memiliki orang tua yang kawin cerai terus. Ayahku menceraikan ibuku ketika aku berusia 12 tahun demi seorang wanita lain. Aku tau, ibuku sangat hancur saat itu tapi beliau adalah wanita kuat yang mampu menutupi kesedihan nya tanpa mengeluh sedikitpun. ayahku sudah menikah dengan wanita itu dan memiliki 2 orang anak.
"Ibu, ayah.. Kania berangkat dulu ya". teriakku yang mencoba pamit pada mereka.
"tunggu dulu". tiba tiba terdengar suara ayah tiriku yang keluar dari kamar.
"a-aaa ada a-aaapa yah?" tanya ku yang penuh ketakutan.
"sini uangnya!". kata ayah.
"u-uuuang apa yah?" tanyaku dengan nada gemetaran.
"ga usah pura pura bego deh, uang dari ibumu. jangan pikir saya ga tau!" bentak ayah tiriku dengan mata melotot.
"jangan yahh, itu untuk bayar buku Kania" kata ibu yang tiba tiba keluar dari kamar.
"saya ga peduli, sini uangnya! atau...ibu kamu yang kena". Kata ayah yang sudah mulai marah.
"jangan yah, i...ini uangnya". kataku sambil memberikan uang nya yang ada disakuku.
"jangan kania, ini uang untuk bayar buku" kata ibu yang terlihat sedih dari raut wajahnya.
"sudah bu, gak apa apa kok". kataku yang berusaha menahan tangis dan tersenyum. Ayah lalu menerima uang dan pergi meninggalkan kami. Ibu menghampiriku untuk memelukku dan mencium keningku. terasa sangat hangat pelukan nya. dibelai nya rambutku sambil berkata "nak, maafin ibu. Gara gara ibu menikah dengan ayah tirimu, kamu jadi menderita. Maafkan ibu yang tidak bisa buat kamu bahagia". tiba tiba air mata ibu pecah membasahi pipinya. Ku peluk erat ibuku dan berkata "bu, jangan khawatir. Kania ga apa apa kok. kania bisa kerja bantuin ibu cari uang. Kania janji, kania akan cari uang yang banyak untuk bahagiakan ibu". kataku.
"tidak Kania, kamu harus fokus kuliah. Tugasmu hanya belajar biar ibu yang fokus cari uang". kata ibu sambil mencium keningku. "oh iya bu, Kania berangkat dulu ya. nanti Kania telat". kataku melepaskan pelukan ibu dan bergegas ambil tasku untuk berangkat kuliah. hari ini sepanjang perjalanan, aku berfikir bagaimana kalau aku kerja saja tanpa sepengetahuan ibuku. aku bisa bagi waktu antara kuliah dan kerja. paling tidak aku tidak membebani ibuku lagi. aku memutuskan untuk tidak masuk kuliah tapi mencari pekerjaan. pekerjaan apa saja, paling tidak biayaya kuliah ku selamat. Aku melamar ke mana mana,sampai akhirnya aku mendapat kerjaan sebagai pelayan toko. "kamu serius mau bekerja disini?" tanya seorang wanita tua yang sepantaran ibuku. Wanita itu bernama Ayu. sesuai namanya, dia sangat ayu dan cantik. "iya bu, tapi maaf boleh kah saya kerja siang? soalnya saya juga kuliah". kataku. " wah, tentu saja..soalnya disini juga emang shift an sih". kata bu Ayu. "tapi apa kamu yakin bisa membagi waktu antata kuliah dan kerja? tanya nya lagi. "iya bu, saya yakin pasti bisa karena saya akan berusaha". kataku. "saya salut pada keoptimisan kamu, kamu mengingatkan saya pada masa muda saya. saya yakin kamu pasti bisa" kata ibu itu sambil tersenyum dan memukul pundakku. "baiklah, besok kamu sudah bisa kerja". katanya lagi. aku tersenyum bahagia, aku bisa kerja dan bantu ibuku. Hari demi demi hari berganti aku melewati dengan senyuman. setiap pagi aku berangkat kuliah dan pulang malam. ketika ditanya ibuku mengapa pulang malam aku selalu mencari alasan bahwa aku setiap malam ada mata kuliah tambahan atau ngerjain tugas dirumah teman. "kamu tidak sedang menyembunyikan sesuatu kan? tanya ibu yang menatapku seakan curiga. "tidak ibu, tidak ada yang ku sembunyikan". jawabku. Setiap hari aku terpaksa berbohong pada ibuku. Aku tidak ingin semakin membebani nya ketika ia tau kalau aku kerja, sementara ayah tiriku saja selalu membebani nya. Ayah kandung ku tidak pernah peduli padaku. ia hanya fokus pada keluarga barunya, anak dan istrinya. Anak anaknya sangat bahagia sementara aku harus melewati hari hariku tanpa figur seorang ayah. Ayah tiriku juga tidak mampu memerankan seorang ayah dihidupku. Aku terpaksa harus berjuang demi bahagiain ibuku. Ibu ku diam diam tetap memberikan uang untuk kuliahku, tapi aku diam diam menyimpan nya sebagai tabungan ku kelak. Selama 2,5 tahun aku harus diam diam kerja tanpa sepengetahuan ibuku. Sampai akhirnya aku bisa meluluskan sarjana ekonomi dengan baik. Aku lulus dengan tepat waktu dengan IPK yang hampir mencapai kesempurnaan. Disetiap ada waktu kosong aku gunakan untuk belajar. Selulus kuliah, pekerjaan ku yang awalnya hanya penjaga toko biasa, akhirnya meningkat. Bu Ayu, bosku memiliki usaha lain. Beliau melihat kinerja ku dan memutuskan menempatkan aku sebagai SPV di tokonya yang lain. aku mendapat kepercayaan dari bu Ayu. Lalu bagaimana dengan ayah tiriku? ayah tiriku tertangkap polisi dan harus mendekam dipenjara karena ketahuan mencuri. Ia terpaksa mencuri demi bisa mabuk dan bayar hutang.
"bu, bolehkah ibu berhenti bekerja? biar Kania saja yang mencari uang. Kania ingin bahagiakan ibu, Kania ga ingin ibu kelelahan”. kataku kala itu saat melihat ibuku sedang kelelahan dengan pekerjaan nya. "baiklah anakku jika itu maumu. Ibu tidak akan kerja lagi". kata ibu sambil tersenyum. "Ibu sangat bangga padamu nak, kamu anak yang berbakti”.
Jujur, aku tidak pernah menyangka bisa melewati semua ini. Aku fikir hidup ini ga adil dan sangat membenciku sampai aku tidak pantas untuk bahagia. tapi aku percaya Tuhan pasti sudah menyediakan sesuatu untukku. Sesuatu yang sangat berarti, masa depan yang baik untuk bisa bahagiakan ibuku. walau awalnya kepahitan yang harus aku rasakan. tapi akhirnya kini semua berujung kepada hal manis. dan benar kata orang, kau akan tau bagaimana rasanya berjuang ketika hidupmu memaksamu harus berjuang. berjuang untuk meraih sebuah "KEBAHAGIAAN YANG BAIK". Dan kini kebahagiaan terbesar adalah membahagiakan Ibuku.
"huft, hujan lagi. berhenti kenapa sih?!!" kataku sambil duduk dibawah jendela kamarku. bolak balik ku melirik jam ditangan memastikan bahwa hari ini aku tidak terlambat kuliah. Aku menunggu hujan itu berhenti. sampai pada akhirnya hujan itu berhenti. Ketika aku ingin bergegas mengambil tasku dan akan berangkat ke kampus, tiba tiba..
"kepraaakk" suara gelas terjatuh.
"sudah aku bilang, kamu jangan terlalu manjain anak itu. kita harus hemat". suara seorang pria yang berteriak keras dari suara kamar ibuku. dia adalah ayah tiriku.
"hiks..hiks.. tapi ini biayaya kuliah Kania, dia harus beli buku kuliahnya". kata seorang wanita dengan suara yang terisak isak, yang tak lain adalah suara ibuku.
"saya ga mau tau, pokoknya saya ga ijini kamu kasih uang padanya!" kata pria itu lagi dengan nada yang mulai tinggi. sebenarnya ini bukan hal pertama kalinya aku melihat ibuku bertengkar dengan ayah tiriku. dan lagi lagi mereka bertengkar karena "aku". Ingin sekali rasanya aku pergi dari rumah, tapi aku tidak tega membiarkan ibu ku berjuang sendiri dengan ayah tiriku yang kejam. namanya Hendra, dia adalah seorang laki laki yang kejam dan penuh emosi. badan nya besar dan kekar, sehingga dia mudah melukai aku dan ibuku. Aku ga tau apa yang sudah ia lakukan pada ibuku, sehingga ibuku mau dengan pria sepertinya yang tidak punya pekerjaan dan suka mabuk mabukan. setiap malam, ayah tiriku pulang malam malam dalam keadaan mabuk. kami selalu jadi sasaran empuk dalam setiap amarahnya. ibuku yang berjuang mati matian memenuhi kehidupan kami, sementara dia sibuk mengatur keuangan ibuku. aku sudah sering meminta ibuku menceraikan nya tapi ibu tetap mempertahankan nya. sebenarnya karena satu hal, ibu ku tidak ingin aku malu memiliki orang tua yang kawin cerai terus. Ayahku menceraikan ibuku ketika aku berusia 12 tahun demi seorang wanita lain. Aku tau, ibuku sangat hancur saat itu tapi beliau adalah wanita kuat yang mampu menutupi kesedihan nya tanpa mengeluh sedikitpun. ayahku sudah menikah dengan wanita itu dan memiliki 2 orang anak.
"Ibu, ayah.. Kania berangkat dulu ya". teriakku yang mencoba pamit pada mereka.
"tunggu dulu". tiba tiba terdengar suara ayah tiriku yang keluar dari kamar.
"a-aaa ada a-aaapa yah?" tanya ku yang penuh ketakutan.
"sini uangnya!". kata ayah.
"u-uuuang apa yah?" tanyaku dengan nada gemetaran.
"ga usah pura pura bego deh, uang dari ibumu. jangan pikir saya ga tau!" bentak ayah tiriku dengan mata melotot.
"jangan yahh, itu untuk bayar buku Kania" kata ibu yang tiba tiba keluar dari kamar.
"saya ga peduli, sini uangnya! atau...ibu kamu yang kena". Kata ayah yang sudah mulai marah.
"jangan yah, i...ini uangnya". kataku sambil memberikan uang nya yang ada disakuku.
"jangan kania, ini uang untuk bayar buku" kata ibu yang terlihat sedih dari raut wajahnya.
"sudah bu, gak apa apa kok". kataku yang berusaha menahan tangis dan tersenyum. Ayah lalu menerima uang dan pergi meninggalkan kami. Ibu menghampiriku untuk memelukku dan mencium keningku. terasa sangat hangat pelukan nya. dibelai nya rambutku sambil berkata "nak, maafin ibu. Gara gara ibu menikah dengan ayah tirimu, kamu jadi menderita. Maafkan ibu yang tidak bisa buat kamu bahagia". tiba tiba air mata ibu pecah membasahi pipinya. Ku peluk erat ibuku dan berkata "bu, jangan khawatir. Kania ga apa apa kok. kania bisa kerja bantuin ibu cari uang. Kania janji, kania akan cari uang yang banyak untuk bahagiakan ibu". kataku.
"tidak Kania, kamu harus fokus kuliah. Tugasmu hanya belajar biar ibu yang fokus cari uang". kata ibu sambil mencium keningku. "oh iya bu, Kania berangkat dulu ya. nanti Kania telat". kataku melepaskan pelukan ibu dan bergegas ambil tasku untuk berangkat kuliah. hari ini sepanjang perjalanan, aku berfikir bagaimana kalau aku kerja saja tanpa sepengetahuan ibuku. aku bisa bagi waktu antara kuliah dan kerja. paling tidak aku tidak membebani ibuku lagi. aku memutuskan untuk tidak masuk kuliah tapi mencari pekerjaan. pekerjaan apa saja, paling tidak biayaya kuliah ku selamat. Aku melamar ke mana mana,sampai akhirnya aku mendapat kerjaan sebagai pelayan toko. "kamu serius mau bekerja disini?" tanya seorang wanita tua yang sepantaran ibuku. Wanita itu bernama Ayu. sesuai namanya, dia sangat ayu dan cantik. "iya bu, tapi maaf boleh kah saya kerja siang? soalnya saya juga kuliah". kataku. " wah, tentu saja..soalnya disini juga emang shift an sih". kata bu Ayu. "tapi apa kamu yakin bisa membagi waktu antata kuliah dan kerja? tanya nya lagi. "iya bu, saya yakin pasti bisa karena saya akan berusaha". kataku. "saya salut pada keoptimisan kamu, kamu mengingatkan saya pada masa muda saya. saya yakin kamu pasti bisa" kata ibu itu sambil tersenyum dan memukul pundakku. "baiklah, besok kamu sudah bisa kerja". katanya lagi. aku tersenyum bahagia, aku bisa kerja dan bantu ibuku. Hari demi demi hari berganti aku melewati dengan senyuman. setiap pagi aku berangkat kuliah dan pulang malam. ketika ditanya ibuku mengapa pulang malam aku selalu mencari alasan bahwa aku setiap malam ada mata kuliah tambahan atau ngerjain tugas dirumah teman. "kamu tidak sedang menyembunyikan sesuatu kan? tanya ibu yang menatapku seakan curiga. "tidak ibu, tidak ada yang ku sembunyikan". jawabku. Setiap hari aku terpaksa berbohong pada ibuku. Aku tidak ingin semakin membebani nya ketika ia tau kalau aku kerja, sementara ayah tiriku saja selalu membebani nya. Ayah kandung ku tidak pernah peduli padaku. ia hanya fokus pada keluarga barunya, anak dan istrinya. Anak anaknya sangat bahagia sementara aku harus melewati hari hariku tanpa figur seorang ayah. Ayah tiriku juga tidak mampu memerankan seorang ayah dihidupku. Aku terpaksa harus berjuang demi bahagiain ibuku. Ibu ku diam diam tetap memberikan uang untuk kuliahku, tapi aku diam diam menyimpan nya sebagai tabungan ku kelak. Selama 2,5 tahun aku harus diam diam kerja tanpa sepengetahuan ibuku. Sampai akhirnya aku bisa meluluskan sarjana ekonomi dengan baik. Aku lulus dengan tepat waktu dengan IPK yang hampir mencapai kesempurnaan. Disetiap ada waktu kosong aku gunakan untuk belajar. Selulus kuliah, pekerjaan ku yang awalnya hanya penjaga toko biasa, akhirnya meningkat. Bu Ayu, bosku memiliki usaha lain. Beliau melihat kinerja ku dan memutuskan menempatkan aku sebagai SPV di tokonya yang lain. aku mendapat kepercayaan dari bu Ayu. Lalu bagaimana dengan ayah tiriku? ayah tiriku tertangkap polisi dan harus mendekam dipenjara karena ketahuan mencuri. Ia terpaksa mencuri demi bisa mabuk dan bayar hutang.
"bu, bolehkah ibu berhenti bekerja? biar Kania saja yang mencari uang. Kania ingin bahagiakan ibu, Kania ga ingin ibu kelelahan”. kataku kala itu saat melihat ibuku sedang kelelahan dengan pekerjaan nya. "baiklah anakku jika itu maumu. Ibu tidak akan kerja lagi". kata ibu sambil tersenyum. "Ibu sangat bangga padamu nak, kamu anak yang berbakti”.
Jujur, aku tidak pernah menyangka bisa melewati semua ini. Aku fikir hidup ini ga adil dan sangat membenciku sampai aku tidak pantas untuk bahagia. tapi aku percaya Tuhan pasti sudah menyediakan sesuatu untukku. Sesuatu yang sangat berarti, masa depan yang baik untuk bisa bahagiakan ibuku. walau awalnya kepahitan yang harus aku rasakan. tapi akhirnya kini semua berujung kepada hal manis. dan benar kata orang, kau akan tau bagaimana rasanya berjuang ketika hidupmu memaksamu harus berjuang. berjuang untuk meraih sebuah "KEBAHAGIAAN YANG BAIK". Dan kini kebahagiaan terbesar adalah membahagiakan Ibuku.
Komentar